Dampak-Dampak Pemanasan Global Update

Data di dapat dari berbagai media informasi di Indonesia mulai dari Awal tahun 2008

a. Hujan Badai, Hujan Es, Badai Topan di berbagai Tempat.

b. Gempa Bumi Dan Tsunami Di berbagai penjuru dunia

c. Gelombang Tinggi dan Erosi Pantai

d. Banjir dan Kekeringan yang terjadi pada waktu yang sama di tempat yang berdekatan.

e. Epidemi Penyakir baru ( sekitar 30 Jenis ) seperti ; Flu Burung, Sapi Gila, SARS, Penyakit Mulut Babi, Penyakit Lidah Biru, dsb

f. Makin Menjamurnya Penyakit Tropis yang disebarkan oleh Nyamuk karena mereka makin ganas, karena temperatur dan kelembaban makin tinggi, Misalnya : Malaria, Demam Berdarah, Cikungunya.

g. Terumbu Karang Memutih.

h. Gagal Panen di berbagi daerah.

i. Makin banyak keluarnya lumpur panasdi Lapindo dan munculnya banyak titik pancaran baru yang justru makin deras.

j. Keluarnya Gas Metana di Kepulauan Madura, Kalimantan, Sumatra Selatan ( Muara Enim ), Ciputat, Indramayu.

k. Perubahan Iklim :

- Suhu Maksimum di Kalimantan naik 4 Derajat Celcius, semula 35 sekarang 39 Derajat.

- Suhu Di Sumatra Naik 3 Derajat Celcius, semula 34 sekarang 37 Derajat.

- Suhu Di Jakarta Naik 2 Derajat Celcius, semula 34 sekarang 36 Derajat

l. Hutan DI Indonesia Hilang dengan kecepatan 2,8 Juta Hektar pertahun.

m. Kesulitan Air Bersih.

n. Air Payau di Kelapa Gading Permai Jakarta Utara Naik sehingga sekarang dengan hanya menggali sekitar 1 meter sudah bisa mendapatkan Air Payau.


Pemanasan Global juga menyebabkan penyebaran HIV/AIDS makin merajalela.

Sudah kita ketahui bahwa perubahan iklim dapat memperbesar daerah penyakit tropis seperi demam berdarah dan encephalitis (radang jaringan otak yang sering menimbulkan penderitanya koma dan berakhir dengan kematian; radangnya terbatas tidak hanya pada jaringan otak tetapi juga mengenai selaput otak). Ternyata tidak hanya itu, seorang peneliti dari Universitas New South Wales Australia mengatakan bahwa pemanasan global juga akan menambah tingkat penyebaran infeksi HIV ke seluruh dunia.

Dalam diskusi panel antar para peneliti HIV, pada tanggal 30 April 2008, Guru Besar Daniel Tarantola mengatakan bahwa pemanasan dapat memperburuk kesehatan dan keadaan sosial di negara-negara miskin dan kekurangan, dan akan diperburuk dengan timbulnya penyakit HIV dan penyakit lain.
“Perubahan iklim akan memicu berbagai kejadian seperti peningkatan stres di lingkungan sosial dan akan menimbulkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit termasuk HIV,” kata Guru Besar Daniel Tarantola.
Secara tidak langsung perubahan iklim juga menyebabkan pengaruh kesehatan karena pencemaran air, menimbulkan badai yang lebih tinggi, serta memicu migrasi dari desa ke kota.

Beberapa penyakit akibat pemanasan global berikutnya :
1. Merebaknya penyakit Bluetongue di dataran Eropa antara tahun 1998-2005.
Penyakit ini telah membunuh lebih dari 1.5 juta ekor domba dan menyebabkan
periode ini sebagai periode wabah bluetongue terlama dan terbesar dalam
sejarah Eropa. Lima serotipe virus bluetongue diketahui telah menginvasi
Eropa pada periode ini. Kasus wabah bluetongue ini terjadi di beberapa
negara atau wilayah yang sebelumnya dilaporkan sama sekali tidak pernah
terdapat kasus Culicoides-borne arboviral disease, seperti Turki, dataran
Yunani, Bulgaria, beberapa negara Balkan, dataran Italia, Sicily dan
Sardinia, Corsica, kepulauan Balearic, dan Tunisia. Kejadian ini sekarang
dihubungkan dengan kejadian pemanasan global di wilayah Eropa. Dari hasil
penelitian yang dilakukan, terindikasi bahwa penyebaran dramatis dari vektor
Culicoides imicola ke wilayah yang tidak pernah mengalami infeksi bluetongue
sebelumnya atau transimisi virus bluetongue oleh vektor baru, C. obsoletus
dan C. pulicaris, hanya terjadi di area-area yang secara nyata mengalami
pemanasan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan langsung antara
kemunculan bluetongue di Eropa dengan global warming

2. Adanya keterlibatan global warming terhadap punahnya 67% dari sekitar
110 spesies katak Atelopus sp. dari pegunungan Costa Rica akibat infeksi
fungi patogen Batrachochytrium dendrobatidis sekitar 20 tahun lalu. Atelopus
sp merupakan spesies katak endemis di wilayah tropis benua Amerika. Analisa
hubungan periode kepunahan terhadap perubahan level permukaan laut dan suhu
udara menunjukkan bahwa pemanasan global telah menyebabkan suhu lingkungan
pada sebagian besar pegunungan-pegunung an di wilayah Amerika Selatan dan
Tengah bergerak mendekati suhu optimum pertumbuhan fungi pathogen B.
dendrobatidis sehingga menyebabkan wabah dan mengakibatkan punahnya sebagian spesiesAtelopussp.

3. Anthrax. Suhu, kelembaban udara, dan kelembaban tanah mempengaruhi
keberhasilan germinasi dari spora Bacillus anthracis. Wabah biasanya
berhubungan dengan perubahan musim hujan dan kemarau, serta suhu lingkungan
yang tinggi.

4 Haemonchosis (penyakit ngorok) merupakan penyakit parasiter yang paling
sering menyerang domba, kerbu dan sapi.. Disebabkan oleh cacing Haemonchus
contortus, menimbulkan kerugian ekonomi yaitu penurunan berat badan,
penurunan produksi susu, daging, kualitas kulit, wol dan terhambatnya
pertumbuhan domba muda baik secara kualitatif maupun kuantitatif serta
kematian domba.. Agen penyebab, Pasteurella multocida, dapat bertahan hidup
di luar tubuh inang pada lingkungan yang lembab dan kejadian penyakit
biasanya terjadi pada musim hujan.
Lebih lanjut dengan penyakit akibat pemanasan global :

Flu, batuk mulai dirasai banyak orang akibat lembabnya udara. Penyakit
lain pun mulai bermunculan, dari diare, demam berdarah, hingga malaria. Di
beberapa rumah sakit, pasien demam berdarah, anak-anak sampai orang dewasa
terpaksa dirawat di selasar, saking melimpahnya jumlah pasien.

Siapa lagi yang paling rentan dengan cepatnya iklim berubah kalau bukan
anak-anak dan balita. Buktinya, angka kematian yang disebabkan oleh malaria
cukup tinggi, sebesar 1-3 juta pertahun, dan 80 persennya balita serta
anak-anak (WHO, 1997). Kaum lanjut usia pun tidak luput dari ancaman akibat perubahan iklim ini.

Dari pemantauan Yayasan Pelangi Indonesia, tercatat kasus malaria di Jawa
dan Bali naik dari 18 kasus per 100 ribu pada tahun 1998, menjadi 48 kasus
per 100 ribu penduduk di tahun 2000. Kenaikan ini hampir 3 kali lipat.
Sementara di luar Jawa dan Bali, terjadi peningkatan kasus sebesar 60 persen
dari tahun 1998-2000. Kasus terbanyak ada di NTT, yaitu 16.290 kasus per 100
ribu penduduk.

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, diperkirakan 15 juta penduduk Indonesia menderita malaria dan 30 ribu di antaranya meninggal dunia (WHO, 1996).

Jika kita tak berupaya menghambat terjadinya perubahan iklim, kasus malaria
di Indonesia akan naik dari 2.705 kasus pada tahun 1989, menjadi 3.246 kasus
pada 2070. Sementara kasus demam berdarah naik 4 kali lipat, dari 6 kasus
menjadi 26 kasus per 100.000 penduduk, pada periode yang sama.
Jangan lupa, kasus kebakaran hutan yang rutin melanda Tanah Air dan
mengirimkan asap ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura
juga melahirkan problem besar. Kualitas udara memburuk dan menurunkan
derajat kesehatan penduduk di sekitar lokasi kebakaran.
Tahun 1997, kebakaran ini mengakibatkan sekitar 12,5 juta populasi (di
delapan provinsi) terpapar asap dan debu (PM 10). Gangguan lain seperti
asma, bronkitis dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) mengancam.
Apalagi kebakaran hutan juga menghasilkan racun dioksin yang dapat
menyebabkan kanker dan kemandulan pada wanita.

Menurunnya kualitas kesehatan penduduk mengakibatkan kerugian berupa
hilangnya 2,5 juta hari kerja. Kebakaran hutan juga menyebabkan kematian
sebanyak 527 kasus (KLH, 1998).

Intensitas hujan yang tinggi dengan periode singkat akan menyebabkan bencana
banjir. Banjir akan mengontaminasi persediaan air bersih. Pada akhirnya
perubahan iklim juga berdampak pada mewabahnya penyakit seperti diare dan
leptospirosis yang biasanya muncul pasca banjir. Kemarau panjang juga
berdampak pada timbulnya krisis air bersih, berdampak pada mewabahnya
penyakit diare dan kulit.

Masih tentang akibat Pemanasan Global yang sudah kita rasakan,
tetapi kali ini mengenai Gempa, Badai dan Tsunami :

Belum lama ini terjadi gempa bumi dahsyat di China, Badai di Myanmar dan menelan banyak korban dan kerugian. Apakah ini juga disebabkan oleh pemanasan Global?

1. Disadur dari NewScientist. com.news service : (18 April 2008) :

Richard Aster dari Insititut New Mexico Teknologi dan Pertambangan di Socorro, AS menggunakan data dari berbagai seismometer di seluruh dunia. Lebih dari 100 seisometer di seluruh dunia digunakan untuk memberikan informasi terbaru tentang perubahan iklim di Bumi sehingga dapat memprediksi lebih baik tentang terjadinya badai dan bencana lain.
Aster mengatakan bahwa, “Pemanasan global dapat menyebabkan badai, gelombang dan mikroseism yang lebih besar”

Mikroseism disebabkan oleh gelombang badai yang besar yang menghantam pantai. Energi yang ditransferkan ke daratan menyebabkan mikroseism melaju sepanjang ribuan kilometer di daratan.
Seorang peneliti lain, Peter Bromirski dari Institusi Scripps Oceanography di La Jolla, AS mengatakan, “Sebagian besar sistem badai besar membuag gelombang besar sehingga mencapai pantai”. Hal ini berati bahwa mikroseism meningkatkan aktifitas badai di seluruh basin lautan (cekungan laut), seperti di Laut Pasifik. Bahkan stasiun pengamat di New Mexico, yang berjarak hampir 2000 km dari pantai, dapat menangkap tremor dari badai Pasifik.
Bromirski menegaskan bahwa jika permukaan air laut naik, badai lautan akan berakibat lebih parah pada daerah tepian pantai.

2. Arthur Chilingarov, seorang ilmuwan Rusia, berbicara atas nama State Duma dan sebagai Ketua Komite International Polar Year, mengatakan bahwa gempa bumi dan tsunami kemungkinan disebabkan oleh perubahan iklim.

Sekian untuk Pemanasan Global II (tentang penyakit akibat pemanasan global)
Semoga ada yang bisa menambahkan, yaitu untuk menambah perpustakaan kita.
Bahan bacaan :
Blaustein AR dan Dobson A. 2006. A message from the frogs. Nature 439 (12
Januari 2006), 143-144
Diffenbaugh NS et al. 2005. Fine-scales processes regulate the response of
extreme events to global climate change. PNAS 102 (44), 15774-15778
Harvell CD et al. 2002. Climate warming and disease risks for terrestrial
and marine biota. Science 296, 2158-2162
McLaughlin JF et al. 2002. Climate change hastens population extinctions.
PNAS 99 (9), 6070-6074
Pounds JA. et al. 2006. Widespread amphibians extinction from epidemic
disease driven by global warming. Nature 439 (12 Januari 2006), 161-167
Purse BV et al. 2005. Global warming and the recent emergence of Bluetongue
in Europe. Nature Reviews Microbiology 3, 171-181
Thomas CD et al. 2004. Extinction risk from climate change.
Nature 427 (8 Januari 2004), 145-148
Sumber data

Ditulis dalam Artikel. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan