Bumi Abadi

BUMI KITA MASIH DAPAT DISELAMATKAN.
MARI KITA IKUT BERPERAN DALAM
MENGHENTIKAN PEMANASAN GLOBAL
DENGAN 3 LANGKAH MUDAH.

Ir. AdyWidjaja, M.Sc,MM.
Dosen FTI
Universitas Budi Luhur
Ady@bl.ac.id
Ady_W168@yahoo.co.id
Updated 12 Mei 2008

Pendahuluan

Berdasarkan data satelit terbaru yang dikutip dari artikel bulan Desember 2007, peneliti Dr.H.J.Zwally dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memprediksikan bahwa hampir Semua ES akan Lenyap dari kutub Utara pada Akhir Musim Panas 2012.

Robert Correll, ilmuwan dari ‘Arctic Climate Impact Assessment’, berkata bahwa, “Jika tidak ada es, lautan akan selalu meningkat panasnya, hal itu memicu percepatan proses pemanasan global. Menurut Michael Steele, peneliti dari University of Washington, temperatur permukaan laut kutub utara pada musim panas yang lalu adalah yang tertinggi yang pernah terjadi dalam catatan sejarah, pada beberapa tempat mencapai 8 derajat Fahrenheit diatas normal.

Menurut David Archer Phd dari University Chicago mengatakan bahwa gas methane (CH4) yang tersimpan dilautan sangat banyak, dan gas methane tersebut akan dilepas dari lautan, bila suhu lautan memanas.

Efek pemanasan global pada temperatur laut memicu pada peristiwa “zona mati (dead zones)” di laut. Sejumlah besar area di air yang tidak ada kehidupan karena kehilangan oksigen dan pelepasan gas beracun hidrogen sulfida (H2S). Menurut laporan dari Perserikatan Bangsa Bangsa, saaat ini ada lebih dari 200 zona mati. Salah satunya ditemui di Lautan Pasifik, dilepas pantai Oregon, Amerika Serikat, tahun lalu saja telah meningkat empat kali lipat luasnya. Jane Lubchenco, profesor dibidang biologi laut di Oregon State University mengungkapkan bahwa di area itu hampir tidak ada oksigen sama sekali. Saat oksigen lenyap, sejenis bakteri baru mengambil alih dan memproduksi gas hidrogen sulfida, yang mematikan sebagian besar kehidupan laut dan terrestrial.

Dua alasan utama untuk tingkat oksigen yang rendah di air, keduanya berkaitan dengan pemanasan global: (1) Saat air memanas, air kurang mampu menyerap oksigen; (2) Gangguan (disruption) arus laut dan cuaca mencegah pasokan oksigen ke area tersebut.

Dalam ceramahnya yang diberikan di Universitas California pada tanggal 4 Maret 2008, Dr. Katey Walter seorang profesor Limnologi dan Riset Lingkungan di Universitas Alaska menyatakan bahwa methane yang keluar dari danau Kutub Utara sekarang dilepaskan ke atmosfer. Hal ini karena mencairnya lapisan-lapisan permafrost di danau tersebut akibat perubahan iklim.

Menurut Dr. Gregory Ryskin, Universitas Nortwestern, AS, Bila gas Methane terlepas dengan cepat, daya ledaknya 10.000 kali lebih besar dari seluruh senjata nuklir didunia. Mengakibatkan lautan api dan banjir maha besar. Ledakan Methane dari lautan telah menyebabkan kepunahan 90% species laut dan 75 % species darat pada 250 juta tahun yang lalu. Jika itu pernah terjadi, itu bisa terjadi kembali.

Pada 25 Desember 2007, diseminar Paris, Supreme Master Ching Hai Tokoh kemanusiaan terkenal didunia, seniman dan guru spiritual mengatakan bila semua es di kutub mencair maka lautan akan menjadi panas dan gas akan dilepas dari lautan, dan kita semua akan teracuni oleh gas dari lautan. Gasnya sangat banyak, cukup untuk membunuh kita semua.

Penyumbang CO2

Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara.

Dr. Gerald Dickens, Asosiat Profesor Ilmu Bumi di Universitas Rice yang bergengsi, berlokasi di Texas, USA dan Kepala Editor dari Jurnal Paleoseanografi perhimpunan Geofisika Amerika, dalam wawancara tgl 26 Maret 2008 dengan Supreme Master Televisi menyatakan sebagian besar karbon kira-kira 93 persen berada dilautan bukan di pohon-pohon atau diatmosfer, jadi apa yang terjadi sekarang adalah kita menambah banyak karbon ke atmosfer. Ia datang jauh lebih cepat dari pada ia dapat pergi kedalam biosfer atau kedalam lautan jadi itulah mengapa CO2 bertambah sangat, sangat cepat.

Menghilangkan CO2

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Hasil riset Dr. Ir. Endes N Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor terhadap 43 pohon yang sering dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dibuktikan bahwa pohon trembesi (samanea saman) sebagai pohon jagoan penyerap karbondioksida yang dalam setahun mampu menyerap 28.488,39 kg karbondioksida. Berikut 5 besar pohon penyerap karbondioksida (CO2) :

Pohon Penyerap Karbondioksida

No

Nama Lokal

Nama Ilmiah

Daya Serap CO2(Kg/pohon/thn)

1

Trembesi

Samanea Saman

28.488,39

2

Cassia

Cassia sp

5.295,47

3

Kenanga

Canangium Adoratum

756,59

4

Pingku

Dysoxylum Excelcum

720,49

5

Beringin

Ficus Benyamina

535,90

Peternakan Penyebab utama Kehancuran planet

Penyebab pemanasan global sebagai berikut : Pembakaran hutan, polusi pabrik, transportasi, dan mereka ini sebagai penghasil CO2, tetapi yang lebih mengejutkan laporan PBB untuk bidang peternakan dan lingkungan hidup tahun 2006 mengungkapkan bahwa sektor peternakan sebagai penyumbang paling signifikan untuk krisis lingkungan yang serius, pada skala dari lokal hingga global, hampir seperlima (20 persen) dari emisi karbon berasal dari peternakan. – Emisi itu lebih besar dari pada semua transportasi dunia yang digabung jadi satu. Industri peternakan “sangat mengejutkan “ merupakan penyebab utama perusakan lingkungan dan emisi gas rumah kaca.

Peternakan hewan untuk bahan makanan merupakan salah satu sumber terbesar penghasil karbon dioksida dan satu-satunya sumber pencemaran gas methane dan emisi nitro oksida. Sektor Peternakan tercatat menyumbang sebesar 9 persen dari karbon dioksida, 65 persen dari nitro oksida dan 37 persen dari gas methane yang dihasilkan dari kegiatan yang berkaitan dengan manusia. Baik gas methane (20 kali) dan nitro oksida (296 kali) ditenggarai lebih berpotensi sebagai penghasil gas rumah kaca dari pada karbon dioksida. Peternakan juga menghasilkan 64 persen dari amonia yang berkaitan dengan manusia, yang menimbulkan hujan asam.

Peternakan juga merupakan sumber utama dari kerusakan tanah dan air. Peternakan saat ini merambah 30 persen permukaan Bumi, dan bahkan lebih, banyak tanah dan air yang digunakan untuk menanam pakan ternak. Menurut Mr. Steinfeld, penulis senior untuk ‘Food and Agriculture Organization report’, ‘Livestock’s Long Shadow’ (Bayangan Kelam Peternakan)–Masalah Lingkungan dan Pilihannya, peternakan merupakan “penggerak utama dari pembabatan hutan sekitar 70 persen dari hutan Amazon telah dialihfungsikan menjadi padang peternakan.” Sebagai tambahan, pertanian berbasis hewan menyebabkan degradasi tanah. Sekitar 20 persen padang peternakan telah terdegradasi melalui pembukaan padang peternakan yang berlebihan, compaction (pemadatan) dan erosi. Hal itu juga bertanggungjawab terhadap untuk penggunaan air yang besar dan polusi. Di Amerika Serikat sendiri, triliunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak tiap tahunnya. Ini sekitar 85 persen dari cadangan air bersih di Amerika Serikat. Hewan juga menghasilkan limbah biologi yang berlebihan untuk dapat diserap ekosistem.

1 kg daging

Air (liter)

Daging Sapi

1,000,000

Kedelai

2,000

Beras

1,912

Gandum

900

Kentang

500

Biro ilmiah pemerhati masalah Hewan, yang dikenal sebagai Yayasan Nicolaas G. Pierson, merilis film dokumenter pada musim semi ini tentang perubahan iklim berjudul ”Meat the Truth (Kebenaran Daging)” Yayasan tersebut menginginkan film ini untuk dipersembahkan sebagai lanjutan dari film mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore berjudul “An Inconvenient Truth” Sedang “An Inconvenient Truth” menjelaskan tentang masalah dan penyelesaian dari pemanasan global, tapi di film itu tidak diungkapkan masalah terbesarnya – peternakan hewan.

“Meat the Truth” menunjukkan dengan jelas bahwa peternakan hewan untuk diambil dagingnya dan produk-produk dari susu adalah penyebab terbesar dari pemanasan global lebih besar daripada semua emisi kendaraan di dunia digabung jadi satu. Tampil di film itu aktor-aktor kenamaan Belanda, penulis-penulis dan politisi-politisi terkemuka, mereka berbagi pandangan untuk menjadi vegetarian. Bukti ilmiah dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk ‘United Nations Food and Agricultural Organization (FAO)’ disajikan dengan baik, dengan data-data pendukung untuk efek luarbiasa dari peternakan hewan pada iklim dan lingkungan kita.

Beberapa fakta-fakta yang ditayangkan di film tersebut adalah:

Emisi karbon dioksida dari seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km.

Seorang vegetarian dengan mengendarai Hummer SUV lebih ramah lingkungan daripada pemakan daging dengan mengendarai sepeda.

Jika masyarakat di Belanda dapat makan tanpa daging untuk satu hari per minggu, jumlah pengurangan karbon dioksida akan sama dengan sasaran pemerintah Belanda untuk semua rumah tangga sepanjang tahun.

Di Amerika Selatan, sekitar 400 juta hektar dari panen kedelai untuk pakan sapi. Jika ini digunakan untuk konsumsi manusia, hanya 25 juta hektar yang dibutuhkan untuk memberi makan seluruh dunia.

Akibat-akibat yang ditimbulkan dari pemanasan global, misalnya perubahan iklim yang terlalu cepat, bahan pangan yang mahal akibat kegagalan panen karena suhu udara yang tidak menentu, permasalahan kesehatan, banjir, kekeringan, kehancuran ekonomi dll.

Solusi

Berdasarkan data-data diatas, solusi yang mudah dan murah adalah kembali ke alam dan manusia itu sendiri yaitu kita kembalikan siklus perkembangan biakan hewan secara alami, dan manusia tidak mengkonsumsi protein tinggi yang berasal dari hewan. Juga sebagai wujud melatih cinta kasih yang universal. Ini cara tercepat dalam menghentikan global warming yaitu 80% (Supreme Master Ching Hai). Untuk solusi energi dimana kita terlalu mengandalkan minyak dan batubara, sudah tersedia energy gratis dari alam yang teknologi terus dikembangkan. Banyak negara sudah memanfaatkan energi alam sebagai solusi kenaikan harga minyak dunia dan kerusakan lingkungan akibat pengeboran minyak. Yaitu energi matahari, angin dan teknologi hijau lainnya yang terus dikembangkan untuk penghematan energi dunia. Yang terakhir adalah penanaman pohon, bila satu orang bisa menanam satu atau dua pohon maka persoalan udara yang bersih, lingkungan yang sejuk dan kesehatan masyarakat lebih terjaga. Jadi tiga hal utama sebagai solusi penyelamatan planet kita tercinta ini adalah : Beralih ke vegetarian atau mengurangi konsumsi
produk hewani sebisa mungkin, memanfaatkan free energy dan penanaman pohon.

http://abcnews.go.com/Technology/wireStory?id=3991705 http://abcnews.go.com/Technology/GlobalWarming/story?id=3582433&page=1

http://afp.google.com/article/ALeqM5iIVBkZpOUA9Hz3Xc2u-61mDlrw0Q http://www.commondreams.org/views04/1215-24.htm http://www.canada.com/topics/news/national/story.html?id=3ef937b0-01db-4b32-a7eb-e1256e5b5624&k=3152

http://www.thepeoplesvoice.org/cgibin/blogs/voices.php/2006/08/12/dead_zone_startles_scientists_graveyard

http://www.iht.com/articles/2008/01/07/healthscience/ice.php http://findarticles.com/p/articles/mi_m1200/is_22_167/ai_n14791407 http://www.livescience.com/environment/ap_060727_dead_zone.html

http://www.huffingtonpost.com/kathy-freston/vegetarian-is-the-new-pri_b_39014.html

http://www.goveg.com/environment-globalwarming.asp http://www.satyamag.com/feb07/eshel.html http://afp.google.com/article/ALeqM5iIVBkZpOUA9Hz3Xc2u-61mDlrw0Q

http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=20772&Cr=global&Cr1=warming

http://www.news.cornell.edu/releases/Aug97/livestock.hrs.html

http://climatechangenews.blogspot.com/2006/12/livestock-impacts-on-environment.html

http://www.partijvoordedieren.nl/

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

Trubus 459, “Para jagoan serap karbondioksida”, Februari 2008/XXXIX

http://www.northwestern.edu/univ-relations/broadcast/9_2003/ryskinmethane.html

http://home.earthlink.net/~rehrdc/producerwebsite/methane.html

http://www.alaska.edu/uaf/cem/ine/walter/thermokarst.xml

Tinggalkan Balasan